Generasi Gemilang

Generasi Gemilang
Cita-citaku melihat Indonesia memiliki generasi penerus bangsa yang gemilang, :-)

Minggu, 13 April 2014

TERKUAT

Karya: Dea Januar Nurjanah


Sekuat apapun dirimu, pasti kamu pernah menangis
Menangislah...
Karena dengan itu dirimu akan menjadi seorang yang kuat
Kuat, Menguatkan, dan Terkuat

Hari ini tepat dimana mataku tak berpenghuni
Melangkah menatap satu sosok terdekat
Yang katanya dulu "dekat"
Tenanglah dirimu tak akan terganggu oleh sorot mata yang tajam ini!

Tuhan, aku rindu sosok wanita pengayom kehidupan
Aku rindu sosok pria yang begitu perkasa
Pria yang sendu dibalik keperkasaannya
Pria yang memikirkan sorot-sorot mata penuh pengharapan
Mama, Bapak kalianlah panutan dan penyemangat hidupku
Pelangi akan datang setelah hujan reda
Rembulan akan datang setelah matahari terbenam

Aku akan KUAT, MENGUATKAN, dan menjadi yang TERKUAT....


Mei, 2013
Ketika Rapat P2M

Minggu, 06 April 2014

17 Januari 1994

" 17 Januari "

Karya: Dea Januar Nurjanah

17 Januari 1994............................
Dirimu terlahir di alam yang fana ini
Hirupan nafas lega, senyum nan mulia tersirat di dalam guratan senyum seorang IBU
HIDUP dan MATI 2 kata yang berada diambang batas menantikan kehadiranmu....
20 tahun kini dirimu berdiri menatap masa depan,,,
20 tahun dirimu mengukirkan sejarah di alam kehidupanmu...
Ucapkan TERIMA KASIH pada Ibu-MU yang LUAR BIASA...
Ucapkan TERIMA KASIH pada Ayah-Mu yang BEGITU PERKASA....
Yang paling UTAMA ucapkan Rasa Syukur-Mu pada TUHAN yang MAHA KUASA....
Bertambah umurmu Berkuranglah Kehidupanmu
Goresan kehidupanmu
Tersurat
di dalam sebuah catatan
Tersirat
di dalam sebuah rekaman
JEJAK-JEJAK KEHIDUPAN
SEGALANYA
“TERPATRI”
hari ini, nanti , dan

hingga dirimu berada dalam keabadian surgawi

Puisi

Rumah Kenangan Buat Adik
Dea Januar Nurjanah

beberapa hari setelah senja jatuh di bahumu
hujan terus berlarian di jalan-jalan
seperti merayakan kebisuan
yang dipendam tahun-tahun lalu
dan kita dengan tangan terkepal
masih saja bernyanyi, mengakali keharuan

inilah sebuah perayaan tanpa kata
di mana bibirmu seperti telah dijahit
oleh bayangan yang semakin asing
dan gedung-gedung dibungkam
karena tak pernah berhenti
melahirkan pembangkang

oh, maret ini yang sebentar lagi terkunci
tak mungkin lagi kau sebut sebagai rumah
sebab apa yang masih menjadi milikmu
adalah kenangan yang tak lagi percaya
bahwa esok dapat mengekalkannya

beberapa hari setelah hujan terus mengepungmu
kau mesti merelakan sebagian usiamu
tergenang di jalan-jalan, di sekolah-sekolah
menampung seluruh kesedihan
yang dipikul anak-anak

beberapa hari setelah pertanyaan-pertanyaan
telah terjawab oleh matamu yang semakin redup
mungkin hanya puisi ini yang sanggup kutitipkan
sebagai rumah untuk kenangan pulang pergi
tanpa merasa dikhianati


Maret 2013