Rumah Kenangan Buat Adik
Dea
Januar Nurjanah
beberapa hari setelah senja jatuh
di bahumu
hujan terus berlarian di
jalan-jalan
seperti merayakan kebisuan
yang dipendam tahun-tahun lalu
dan kita dengan tangan terkepal
masih saja bernyanyi, mengakali keharuan
inilah sebuah perayaan tanpa
kata
di mana bibirmu seperti telah dijahit
oleh bayangan yang semakin asing
dan gedung-gedung dibungkam
karena tak pernah berhenti
melahirkan pembangkang
oh, maret ini yang sebentar lagi
terkunci
tak mungkin lagi kau sebut sebagai
rumah
sebab apa yang masih menjadi milikmu
adalah kenangan yang tak lagi percaya
bahwa esok dapat mengekalkannya
beberapa hari setelah hujan terus
mengepungmu
kau mesti merelakan sebagian usiamu
tergenang di jalan-jalan, di
sekolah-sekolah
menampung seluruh kesedihan
yang dipikul anak-anak
beberapa hari setelah pertanyaan-pertanyaan
telah terjawab oleh matamu yang
semakin redup
mungkin hanya puisi ini yang
sanggup kutitipkan
sebagai rumah untuk kenangan pulang
pergi
tanpa merasa dikhianati
Maret 2013
Tidak ada komentar:
Posting Komentar