Aristoteles
dalam “Arts Poetica” (A.Teeuw, 1984: 95-109) menyusun sistem sastra atas tiga
kriteria yaitu:
- Media of representation (sarana
perwujudannya), yaitu prosa dan puisi.
- Obyek of representation (objek
perwujudan), yaitu manusia yang ada tiga kemungkinannya yaitu:
1. Manusia rekaan lebih agung dari
manusia nyata: tragedi, epik, cerita panji,
2. Manusia rekaan lebih hina: komedi,
lenong,
3. Manusia rekaan sama dengan manusia
nyata: roman.
- Manner of poetic representation
(ragam perwujudan):
1. teks berisi cerita, sebagian
percakapan tokoh: epik,
2. yang bicara si aku (penyair):
lirik,
3. yang bicara para tokoh saja:
drama.
Ciri-ciri teks sastra
Menurut Jan van
Luxemburg (1984: 86-89) sebuah teks mempunyai ciri-ciri:
a) Pragmatik, yaitu hubungan antara tanda
dengan pemakai.
b) Sintaksis, yaitu hubungan antara tanda di
dalam teks.
c)
Semantik, yaitu hubungan antara tanda dengan makna.
Fungsi teks
Menurut Jacobson
(Jacobson dalam Luxemburg, 1984: 90-94) teks berfungsi sebagai pesan dalam
situasi komunikasi ditentukan oleh 5 faktor yaitu:
- Pemancar dan penerima.
- Pesan.
- Konteks.
- Kode.
5. Saluran.
Jenis teks
Luxemburg membagi
teks atas 3 jenis yaitu:
- Teks ekspresif: teks yang
mengungkapkan pikiran, perasaan, pengalaman, pendapat pengarang,
pengalaman batin, dan sebagainya.
- Teks referensial atau teks acuan:
teks yang mengacu pada suatu konteks (dunia nyata atau yang mungkin ada).
Teks ini terdiri atas 3 macam yaitu:
1) teks informatif
2) teks diskursif
3) teks instruksif
c. Teks
persuasif: teks yang berfungsi mempengaruhi pendapat, perasaan, dan perbuatan
pembaca.
Segala jenis teks sastra diatas menurut Jacobson
(Luxemburg, 1984: 110-111) mempunyai ciri sebagai berikut:
1) Ia berfungsi sebagai sastra,
2)
Sekelompok pembaca teks sebagai hasil sastra,
3) Teks sendiri berciri khas satra.
Adapun ragam teks sastra adalah
sebagai berikut:
1) Teks monolog.
2) Teks dialog.
3) Teks
berlapis/teks naratif.
Isi teks sastra
Sastra merupakan
cermin atau gambaran mengenai kenyataan, tapi dunia melukiskan banyak hal yang
dalam kenyataan tak pernah ada. Dalam karya sastra kadang-kadang dunia ciptaan
itu mirip dengan kenyataan (novel
realistik atau autobiografi), kadang-kadang menyimpang jauh (science fiction dan dongeng).
Menurut Luxemburg (1984: 23): sebuah teks fiksi tidak menuliskan
kenyataan, ia sekedar menampilkan segala macam hubungan dan kaitan yang kita
kenal kembali berdasarkan pengalaman kita sendiri mengenai kenyataan, sehingga
teks sangat cocok untuk menuliskan segi-segi yang khas dalam kenyataan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar