Generasi Gemilang

Generasi Gemilang
Cita-citaku melihat Indonesia memiliki generasi penerus bangsa yang gemilang, :-)

Minggu, 04 Januari 2015

Kesalahan EYD pada Karangan Murid Sekolah Dasar
            Pembelajaran bahasa Indonesia di Sekolah Dasar mengarahkan siswa untuk  memiliki kemampuan berbahasa yaitu: menyimak, berbicara, membaca, dan menulis. Kemampuan menulis di SD, siswa diharapkan  agar dapat menulis secara efektif dan efesien berbagai jenis karangan dalam berbagai konteks (Depdiknas, 2006).  Menulis sebagai salah satu dari empat keterampilan berbahasa (menyimak, berbicara, membaca, dan menulis) yang diajarkan di sekolah dasar, merupakan sarana yang penting dikuasai siswa agar dapat mengungkapkan gagasan pendapat, pengalaman, dan perasaan dengan baik. Penguasaan keterampilan menulis mutlak diperlukan dalam kehidupan sehari-hari, namun pada kenyataannya  pembelajaran menulis  karangan  kurang perhatian yang serius. Pembelajaran menulis di SD sering kurang ditangani dengan baik. Kalaupun ada pelaksanaannya kurang sistematis. Guru hanya memberikan sebuah  judul  karangan yang harus dibuat oleh siswa dengan banyak lembar atau paragrap tertentu. Hal tersebut menyebabkan banyak terjadi kesalahan dalam penulisan karangan murid Sekolah Dasar, terutama kesalahan pada penulisan EYD. Keberhasilan pengajaran kemampuan menulis sangat ditentukan oleh proses pengajaran menulis itu sendiri. Seperti kita ketahui, kemampuan menulis ini dapat dicapai dengan latihan dan bimbingan yang intensif. Dalam hal ini peranan guru sangat menentukan. Guru harus memiliki kemampuan menulis yang baik, di samping juga harus mampu mengajarkannya.
            Masalah ejaan tampaknya amat sederhana. Justru karena kesederhanaannya itulah orang sering melupakannya. Padahal, pedoman EYD, kamus, dan tata bahasa merupakan rambu-rambu untuk menuliskan bahasa tulis baku. Ketepatan penggunaan pedoman ejaan bisa dijadikan ukuran sejauh mana ‘kepahaman bahasa’ seseorang, bahkan dijadikan ukuran sejauh mana seseorang ‘melek bahasa’.
            Tujuan pengajaran  ejaan di SD, tentulah mengharapkan murid mampu menuliskan huruf, kata, tanda baca, ataupun kalimat sesuai dengan pedoman ejaan yang berlaku. Murid diharapkan dapat menggunakan dan menuliskan  huruf, kata, unsur serapan, dan tanda baca dengan benar dan sesuai dengan pedoman yang berlaku. Penekanannya di sini bukanlah pada pengetahuan tentang ejaan (teori), tetapi penerapannya. 
            Ejaan adalah keseluruhan peraturan bagaimana melambangkan bunyi ujaran dan bagaimana hubungan antara lambang-lambang itu (pemisahan dan penggabungannya dalam suatu bahasa). Secara teknis, yang dimaksud dengan ejaan adalah (1) penulisan huruf, (2) penulisan kata, dan (3) penggunaan tanda baca.
            Pada karangan murid-murid SD,kebanyakan kesalahan yang terjadi terdapat pada penggunaan EYD. Kesalahan-kesalahan penggunaan EYD tersebut adalah yang pertama pada kategori      “Kesalahan  Tulisan “ diantaranya yang pertama pada  penulisan judul contohnya pada judul “memancing di laut musi” yang seharusnya adalah“Memancing di Laut Musi”. Kesalahan  kedua adalah  pada penggunaan paragraf, ternyata didapati juga karangan murid yang tidak menggunakan paragraf.  Kesalahan yang ketiga adalah penulisan huruf kapital, kesalahan ini juga merupakan kesalahan yang banyak ditemui dalam analisis seperti yang terjadi pada karangan siswa berikut ini, “Pada Hari minggu”  yang seharusnya adalah  “Pada hari minggu”. Kesalahan yang keempat adalah  pada penulisan kata depan, kata depan di, ke, dari, ditulis terpisah dari kata yang mengikutinya, kecuali di dalam gabungan kata yang sudah dianggap sebagai satu kata seperti kepada, dan daripada. Namun, siswa masih sering salah dalam menuliskannya, misalnya seperti “kerumah” yang seharusnya adalah ke rumah.
             Kategori kesalahan penggunaan EYD yang kedua adalah pada kategori “Penggunaan Tanda Baca”.  Kesalahan tanda baca merupakan kesalahan yang banyak ditemui pada karangan murid SD. Kesalahan-kesalahan penggunaan tanda baca tersebut diantaranya yang pertama adalah kesalahan pada tanda titik (.). Kesalahan tanda titik yang dimaksud pada intinya ada dua yang dapat ditemukan pada karangan murid SD. Pertama siswa menggunakan tanda titik bukan pada tempatnya. Misalkan: “Pada hari yang ke 5. Saya pergi ke kebun itu membawa alat-alat rumput. Untuk rumput.” Padahal yang seharusnya adalah “Pada hari yang ke-5, saya pergi ke kebun itu membawa alat-alat rumput untuk merumput.”  Kedua siswa yang tidak menggunakan tanda titik (.) pada suatu kalimat yang mempunyai satu-kesatuan makna. Contoh : “ Pada saat Pagi hari saya pergi ke taman Kami disana Bermain-main yang Biasa kami main. Yang seharusnya adalah “ Pada saat pagi hari, saya pergi ke taman. Kami di sana bermain-main yang bisa kami main.” Kesalahan yang kedua adalah pada penggunaan tanda koma (,),tanda seru (!) , dan tanda Tanya (?).  Dalam karangan sering ditemui siswa salah menggunakan tanda baca. Seharusnya menggunakan tanda titik (.), tetapi yang dipakai justru tanda koma (,) atau sebaliknya. Dari sini dapat diketahui bahwa siswa belum dapat mebedakan fungsi tanda baca. Misalnya: “Pada pagi hari kami Berangkat menuju rumah nenek saya. Yang seharusnya: “Pada pagi hari kami berangkat untuk menuju  rumah nenek saya.” Begitupun kesalahan pada tanda seru (!). Contoh : Bertanya ap nak !. Yang seharusnya : bertanya apa nak ?. Dan juga terjadi kesalahan pada penggunaan tanda Tanya (?). Contoh : Apakah kamu mau, lalu Putri tadi menjawab. Saya tidak mau ayah. Yang Seharusnya : Apakah kamu mau ? Lalu Putri menjawab, saya tidak mau ayah.
            Hal-hal di atas merupakan beberapa bentuk kesalahan EYD pada karangan Murid Sekolah Dasar.  Melihat hal-hal tersebut tentu sangatlah memprihatinkan. Bagaimana tidak? SD yang seharusnya menjadi Sekolah Dasar untuk membibiti anak-anak  ke tingkatan sekolah yang lebih tinggi, malah tak berfungsi seperti seharusnya. Sudah seharusnya penggunaan EYD ini diberikan secara intensif  oleh guru SD kepada muridnya.
            Oleh karena itu, dengan melihat beberapa kesalahan penggunaan EYD tersebut pada karangan murid Sekolah Dasar, sebaiknya pengajaran EYD pada tingkat SD lebih diperhatikan kembali, mengingat pentingnya EYD tersebut untuk dipelajari di SD sebagai dasar untuk ke tingkat yang lebih tinggi lagi yaitu SMP,SMA, dan Perguruan Tinggi. Pengembangan kemampuan menulis di Sekolah Dasar banyak bergantung kepada kreatifitas seorang guru. Oleh karena itu, guru harus membekali dirinya dengan kemampuan menulis dan pemahaman menyeluruh mengenai penggunaan EYD di dalam menulis.Guru pun dituntut mampu memilih metode yang sesuai sehingga dapat merangsang kreatifitas siswa. Di samping itu seperti sudah diutarakan sebelumnya, perlu diingat kemampuan menulis hanya dapat dicapai dengan berlatih. Latihan yang intensif dan bimbingan yang terarah, tentulah akan menggiring siswa memiliki kemampuan menulis, sesuai dengan tujuan yang ingin dicapai. Dalam hal ini setiap guru hendaknya menyadari bahwa pengajaran menulis tidak ditekankan pada pengetahuan kebahasaan tetapi bagaimana menerapkan pengetahuan tersebut. Akan jauh lebih baik jika murid SD tidak hanya sekedar mengetahui saja mengenai EYD, tetapi mampu paham dan  menerapkannya di dalam kehidupan sehari-hari.
          Jadi, kesimpulannya Guru harus memberikan penekanan pengajaran EYD pada setiap bidang studi, setiap guru harus bertanggung jawab atas pengajaran EYD, dan murid-murid menggunakan EYD sebagai suatu kebiasaan dalam kegiatan tulis-menulis di sekolah. Dengan penerapan hal tersebut diharapkan agar kedepannya murid-murid SD mampu memahami EYD dan menerapkannya di dalam kegiatan tulis-menulis dan di dalam kehidupan sehari-hari. Selain itu, jika mereka memahami dan mampu menerapkannya tentu tidak akan terjadi kesalahan lagi di dalam kegiatan menulis, salah satunya seperti kegiatan mengarang. Jadi,pada saat melanjutkan pendidikan  ke jenjang yang lebih tinggi,tentu mereka sudah memiliki pemahaman yang matang mengenai penggunaan EYD di dalam kegiatan belajar maupun di dalam kehidupan sehari-hari.
Sumber: 
http://file.upi.edu/Direktori/JURNAL/PENDIDIKAN_DASAR/Nomor_14Oktober_2010/STRATEGI_PEMBELAJARAN_MENULIS_DENGAN_MODEL_PROSES_MENULIS_DAN_PENILAIAN_PORTOFOLIO_DI_KELAS_V_SDN_SINDANGRAJA_KABUPATEN_SUMEDANG.pdf0


Tidak ada komentar:

Posting Komentar